Senin, 04 Februari 2013

Makalah biologi pola-pola hereditas


MAKALAH BIOLOGI
Membahas

 POLA-POLA HEREDITAS

OLEH :
 
 

 XII IPA 1
SMA NEGERI 1 LIBURENG 
TAHUN PELAJARAN 2012 / 2013

 

HALAMAN PENGESAHAN
Mengesahkan




   Guru bidang study,                                                                Penulis,



Drs. Abd.Rauf, M.MPdR                                               Putri Nurjayana Muin
NIP. 196704271997021001                                                               NISN 9968578185





Kepala SMA Negeri 1 Libureng,



Drs. Syamsuddin, M.Si
NIP. 195512311988031039






KATA PENGANTAR
bismillahirrahmanirrahiim

ASSALAMU’ALAIKUM WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH

P
ertama-tama, puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami. Berkat pertolongan-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah kami ini dengan baik tanpa adanya suatu halangan apapun.
Tugas dan tanggung jawab kami sebagai siswa untuk membuat makalah tentang POLA-POLA HEREDITAS telah membawa kami pada suatu pembelajaran tentang bagaimana sebenarnya rangkaian gen yang menyebabkan variasi turunan pada makhluk hidup.
Kami pun tak lupa untuk menyuguhkan gambar-gambar yang mendukung penjelasan-penjelasan kami. Agar memperjelas apa-apa yang sukar untuk dipahami dalam makalah kami ini. Masalah yang kami kupas dalam makalah ini sesuai dengan keterangan para sejarawan, jadi semua elemen-elemen masyarakat akan dengan sangat mudah dalam menangkap semua kata-kata dalam kalimat-kalimat kami.
Sesungguhnya ini semua tak akan lepas dari pengawasan dan bimbingan para pengajar dan orang-orang disekeliling kami dalam memberikan pengarahan bagi kami dalam menyusun makalah kami ini. Kami sangat berterimakasih atas bantuan dan perhatian untuk semuanya.
Semoga apa yang kami paparkan didepan dapat bermanfaat bagi para pembaca dan menambah wawasan kita semua akan bagaimana kronologis peristiwanya.


WASSALAMU’ALAIKUM WA ROHMATULLOHI WA BAROKATUH



Penulis,
Putri Nurjayana Muin





 DAFTAR ISI
Halaman Judul i
Halaman Pengesahan ii
Kata Pengantar iii
Daftar Isi iv
Bab 1 Pendahuluan 5
1.1.        Latar Belakang 5
1.2.        Rumusan Masalah 5
1.3.        Batasan Masalah 5
1.4.        Hipotesa 6
1.5.        Tujuan Dan Manfaat 6
Bab 2 Pembahasan 7
2. 1.        Hukum Pewarisan Sifat 7
2. 2.        Penyimpangan Hukum Mendel 9
2.2.1.            Interaksi Alel 9
2.2.2.            Interaksi Genetic 10
2.2.3.            Tautan 14
2.2.4.            Pindah silang 15
Bab 3 Penutup 18
*    Kesimpulan 18
*    saran 18
Daftar Pustaka xix

 BAB 1 PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
Dalam rangka memperdalam ilmu bidang biologi serta mengakrabkan  jiwa dengan hembusan materi biologi tertentu, saya sebagai siswa SMA Negeri 1 Libureng kelas XII IPA 1 di beri tugas dan tanggung jawab dalam menyusun makalah ini. Judul saya pilih sendiri karena kami diberi wewenang untuk menarik judul sendiri sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Maka dari itu saya mengambil judul POLA-POLA HEREDITAS ini sebagai bahan acuan saya dalam menyusun makalah ini.
Dalam pola-pola hereditas ini menjelaskan tentang ruang lingkup hukum Mendel serta apa yang menjadi penyimpangannya. Namun saya menyinggung sedikit tentang tautan dan pindah silang untuk menambah wawasan saya.

1.2.  Rumusan Masalah
*      Adakah dampak penyimpanngan hukum Mendel terhadap variasi turunan ?
*      Apakah dari peristiwa pindah silang itu memiliki dampak terhadap variasi individu ?

1.3.  Batasan Masalah

1.4.  Hipotesa
Hipotesis dari pemaparan yang akan saya bahas berdasarkan rumusan masalah diatas adalah sebagai berikut :
*      Hukum Mendel 1 dan 2 sama-sama menjelaskan tentang bagaimana ragam fenotip yang d turunkan dari induknya. Hal ini menyebabkan adanya variasi turunan.
*      Pindah silang adalah kejadian dimana kromatid-kromatid yang saling berdesak-desakan didalam sel hingga mendorong terjadinya perpotongan pada kaki kromatid kemudian bersambungan dengan kromatid homolognya.
Pindah silang ini juga memberi dampak pada variasi individu akibat bertukarnya alel


1.5.  Tujuan Dan Manfaat
Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk mempelajari kejadian-kejadian apa saja yang terjadi pada gen makhluk hidup. Kita dapat menggolongkan persilangan pada gamet dengan menjabarkan eksperimen yang telah dilakukan oleh penelitian sebelumnya.
Manfaat yang dapat kita ambil adalah setelah kita mempelajari tentang genetika, kita akan mampu meminimalisir kondisi yang kurang diinginkan dalam sebuah keluarga dengan memperhatikan calon parental untuk menurunkan keturunan yang baik.







BAB 2 PEMBAHASAN


Pola-Pola Hereditas
2.1.    Hukum Pewarisan Sifat
Tokoh yang terkenal dalam bidang genetika atau pewarisan sifat adalah Gregor Mendel. Ia mejelaskan bahwa adanya fenomena factor keturunan atau gen yang secara kekal diwariskan dari induk kepada keturunannya melalui hukum pemisahan. Teori Mendel ini akhirnya dijadikan dasar dalam memahami genetika dan melakukan analisis atas pola-pola pewarisan sifat genetic. Kesimpulan hukum mendel ini dituangkan ke dalam 2 buah rumusan, yaitu :
Hukum Mendel I (pesilangan monohybrid)
pada waktu pembelahan gamet terjadi segregasi / pemisahan alel alel suatu gen secara bebas dari diploid menjadi haploid

Persilangan monohibrid adalah perkawinan yang menghasilkan pewarisan satu karakter dengan dua sifat beda. Misalnya warna bunga adalah karakter tanaman yang diamati. Mendel melihat ada dua sifat dari karakter warna bunga tanaman kacang kapri, yaitu warna ungu dan warna putih. Bila tanaman kacang kapri berbunga ungu disilangkan dengan tanaman kacang kapri berbunga putih, maka generasi anakan mereka adalah 100% tanaman berbunga ungu. Namun, bila tanaman berbunga ungu hasil persilangan itu dikawinkan sesamanya (perkawinan inbreeding), keturunannya menunjukkan 75 % tanaman berbunga ungu dan 25 % tanaman berbunga putih.

Hukum Mendel II (persilangan dihibrid)
pada saat pembentukan gamet, alel-alel berbeda yang telah bersegregasi bebas akan bergabung secara bebas membentuk genotip dengan kombinasi-kombinasi alel yang berbeda
Persilangan dihibrid atau dihibridisasi adalah suatu persilangan (pembastaran) dengan dua sifat beda. Dalam percobaannya tentang prinsip berpangan secara bebas (Hukum Mendel II), Mendel melakukan eksperimen dengan membastarkan tanaman Pisum sativum bergalur murni dengan memperhatikan dua sifat beda, yaitu biji bulat berwarna kuning dengan galur murni berbiji kisut berwarna hijau.
Dalam membuat perhitungan prediksi kombinasi alel pada tanaman dua jenis, Mendel menganggap bahwa gen-gen pembawa sifat itu berpisah secara bebas terhadap sesamanya sewaktu terjadi  pembentukan gamet. Jadi, pada dihibrid YyRr misalnya, terjadi pengelompokan gen:


Dalam persilangan terdapat 3 jenis persilangan, yaitu :
1.       Testcross : persilangan antara suatu individu yang tidak diketahui genotipnya dengan induk yang genotipnya homozigot resesif. Tujuan dari persilangan ini adalah untuk menguji heterozigositas suatu persilangan.
2.      Backcross : persilangan antara anakan F1 yang heterozigot dengan induknya yang homozigot dominan, karena disilangkan seperti ini maka kemungkinan anak hasil dari persilangan itu hanya satu macam.
3.      Resiprok : persilangan ulang dengan jenis kelamin yang dipertukarkan.

2.2.   Penyimpangan Hukum Mendel
Interaksi –interaksi di dalam tubuh makhluk hidup dapat menyebabkan adanya penyimpangan semu hukum mendel. Ada 2 jenis penyimpangan, yaitu penyimpangan karena interaksi alel dan penyimpangan karena reaksi genetic.
2.2. 1.      Interaksi Alel
 Penyimpangan karena interaksi alel adalah :
*   Dominasi tidak sempurna (incomplete dominance) : alel dominan tidak dapat menutupi alel resesif sepenuhnya. Akibatnya individu heterozigot bersifat setengah dominan dan setengah resesif. Contoh: tanaman bunga Snapdragon.
Hasilnya berupa perbandingan 1 : 2 : 1


M
m
M
MM
Mm
m
Mm
mm



*   Kodominan : dua alel suatu gen yang menghasilkan produk berbeda dengan alel yang satu tidak dipengaruhi oleh alel yang lain. Contoh : ayam berbulu blue Andalusia.
Hasilnya berupa perbandingan 1 : 2 : 1


B
b
B
BB
Bb
b
Bb
Bb



*      Alel ganda : adanya tiga atau lebih alel dari suatu gen yang terjadi sebagai akibat dari mutasi. Contoh : warna rambut kelinci. Pertambahan jumlah anggota alel ganda menyebabkan bertambahnya kemunkinan genotip bagi masing-masing fenotip (polimorfisme)
*      Alel letal : alel yang dapat menyebabkan kematian bagi individu yang memilikinya pada saat masih menjadi embrio awal atau beberapa saat setelah kelahiran. Gen letal yang menyebabkan kematian saat individu menjelang dewasa disebut gen sub letal.
1.       Alel letal resesif : alel yang dalam keadaan homozigot resesif dapat menyebabkan kematian. Contoh : albino ( 1 dari 4 keturunan akan mati). Pada keadaan heterozigot individu normal tetapi pembawa (carier) gen letal


2.      Alel letal dominan : alel yag dalam keadaan homozigot dominan dapat menyebabkan kematian. Contoh : ayam jambul (1 dari 4 keturunan akan mati). Ayam redep adalah ayam yang memiliki kaki dan sayap pendek. Dalam keadaan homozigot dominan, ayam mati. Jika heterozigot, ayam hidup tetapi memiliki kelainan pada kaki dan sayap pendek. Sedangkan homozigot resesif ayam normal

Rasio fenotip Letal : redep : normal = 1 : 2 : 1
Rasio perbandingan tersebut menyimpang dari rasio perkawinan monohibrid


2.2.2.      Interaksi Genetik
               Selain interaksi antar alel, terdapat juga interaksi genetic yaitu adalah suatu keadaan dimana dua atau lebih gen mengekspresikan protein enzim yang mengkatalis langkah-langkah dalam suatu jalur yang sama. 
Interaksi genetic ini menyebabkan :
*               Atavisme : munculnya suatu sifat baru karena adanya interaksi dari beberapa gen. contoh : jengger ayam (persilangan antara rose dan pea menghasilkan walnut 100%, lalu disilangkan lagi sesama walnut)
Perbandingan hasilnya adalah 9 : 3 : 3 : 1 (walnut : rose : pea : single)
muncul sebuah sifat baru


RP
Rp
rP
Rp
RP
RPRP
RRPp
RrPP
RrPp
Rp
RRPp
RRpp
RrPP
Rrpp
rP
RrPP
RrPp
rrPP
rrPp
rp
RrPp
Rrpp
rrPp
Rrpp






ü  Atavisme pertama kali ditemukan oleh Bateson dan Punnet.
ü  ada empat macam bentuk pial/jengger ayam yaitu:


ü  Interaksi antar gen-gen yang menentukan bentuk dari pial (jengger ayam).
ü  hasil temuan: karakter pial/jengger ayam tidak hanya diatur oleh satu gen, tetapi oleh dua gen yang berinteraksi.




ü  Penyimpangan yang terjadi pada atavisme adalah bukan mengenai rasio fenotip F2, melainkan munculnya sifat baru pada pial ayam yaitu walnut dan single
ü  Tipe jengger walnut merupakan hasil interaksi dari dua gen dominan yang berdiri sendiri
ü  tipe jengger single merupakan hasil interaksi dua gen resesif

*               Polimeri : bentuk interaksi gen yang kumulatif atau saling menambah sebagai akibat dari interaksi dua gen atau lebih, atau bisa disebut sebagai gen ganda. Contoh : percobaan H. Nillson-Ehle pada biji gandum (persilangan antara gandum berbiji merah gelap dengan putih menghasilkan merah sedang 100%, lalu disilangkan lagi sesama merah sedang)
Perbandingan hasilnya 15 : 1 (merah : putih)


*               Kriptomeri : sifat gen dominan yang tersembunyi jika gen tersebut berdiri sendiri, namun setelah berinteraksi dengan gen dominan lainnya akan muncul sifat yang tersembunyi itu. Contoh : bunga Linaria maroccana (persilangan antara bunga merah dan putih yang menghasilkan keturunan ungu 100%, kemudian disilangkan sesama ungu)


Perbandingan hasilnya adalah 9 : 3 : 4 (ungu : merah : putih)

*               Epistasis dan Hipostasis : gen yang menutupi dan yang ditutupi
1.       Epistasis dominan : gen dengan alel dominan yang menutupi kerja gen lain. Contoh : labu putih disilangkan dengan labu hijau akan menghasilkan labu putih 100%, bila disilangkan lagi maka akan menghasilkan keturunan dengan perbandingan 12 : 3 : 1 (putih : kuning : hijau)

Diagram persilangan epistasis dominan pada tanaman labu

2.      Epistasis resesif : gen dengan alel homozigot resesif yang mempengaruhi gen lain. Contoh : warna rambut tikus hitam dengan tikus putih akan menghasilkan tikus abu-abu agouti, bila disilangkan lagi akan menghasilkan perbandingan 9 : 3 : 4 (abu-abu : hitam : putih)


3.      Epistasis dominan rangkap : peristiwa dua gen dominan atau lebih yang bekerja untuk munculnya satu fenotip tunggal. Contoh : persilangan biji segitiga dengan biji membulat menghasilkan 100% biji segitiga yang bila disilangkan lagi akan menghasilkan perbandingan 15 : 1 antara segitiga dan membulat


*               Komplementer / epistasis resesif rangkap : interkasi beberapa gen yang saling melengkapi. Contoh : bunga Lathyrus odoratus. (perbadingan akhirnya 9 : 7 (ungu : putih)
Merupakan interaksi gen yang saling melengkapi. Jika satu gen tidak muncul, maka sifat yang dimaksud juga tidak muncul atau tidak sempurna
ü  Gen-gen komplementer pertama kali ditemukan oleh W. bateson dan RC Punnet
ü  Pada bunga lathyrus odoratus terdapat dua gen yang saling berinteraksi dalam memunculkan pigmen bunga
ü  Gen C : membentuk pigmen warna
Gen c : tidak membentuk pigmen warna
Gen P : membentuk enzim pengaktif
Gen p : tidak membentuk enzim pengaktif
Berdasarkan karakter gen-gen tersebut, maka warna bunga hanya akan muncul jika kedua gen (penghasil pigmen dan penghasil enzim) bertemu. Jika tidak bertemu maka warna bunga yang terbentuk.




Berdasarkan hasil persilangan di samping, rasio fenotip = ungu : putih = 9 : 7

2.2.3.      Tautan

*   Tauatan Autosomal
Tutan autosomal adalah gen-gen yang terletak pada kromosom yang sama tidak dapat bersegregasi  secara bebas dan cenderung diturunkan bersama. Penelitian ini dilakukan oleh Thomas Hunt Morgan dengan menggunakan lalat buah yang dikembang biakkan dan akhirnya menemukan satu variasi baru berupa lalat bermata putih yang Ia sebut sebagai lalat mutan, karena berasal dari alel tipe normal yang mengalami perubahan atau mutasi. 

*   Tautan Seks
Pautan sex (sex linkage) merupakan suatu keadaan dimana terdapat banyak gen tertentu yang selalu terdapat pada kromosom sex. Adanya pautan sex menyebabkan suatu sifat muncul hanya pada jenis kelamin tertentu. Ada dua jenis pautan sex, yaitu pautan X dan pautan Y.
Contoh: persilangan antara lalat Drosophilla melanogaster bermata merah dan putih.
P :        jantan mata putih     X     betina mata merah
 
XmY                            XMXM
F1 :               XMY        : jantan mata merah
XMXm      : betina mata merah
P2 :              XMY        x         XMXm
F2:               XMY        : jantan mata merah
XmY        : jantan mata putih
 
XMXM      : betina mata merah
XMXm      : betina mata merah
Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa gen yang menyebabkan warna mata pada lalat terdapat pada kromosom X. Mata merah disebabkan gen dominan M, dan mata putih disebabkan gen resesif m. Hasil persilangan pada F, induk jantan yang bermata putih mewariskan gen m pada anak betina, sedangkan induk betina yang bermata merah mewariskan gen M pada anak jantan.
Ingat
Pada anak jantan, X berasal dari induk betina
Pada anak betina, X berasal dari kedua induk
Inilah yang disebut konsep pewarisan sifat menyilang (criss cross inheritance)

2.2.4.      Pindah Silang
ü  proses pertukaran gen-gen antara kromatid-kromatid yang bukan pasangannya pada sepasang kromosom homolog.
ü  Tempat persilangan dua kromatid disebut chiasma, dan terjadi pada peristiwa meiosis I
ü  Dikembangkan oleh : Morgan pada tanaman ercis bunga ungu pollen lonjong (PPLL) yang. ..disilangkan dengan bunga merah pollen bulat (ppll)
ü  Hasil temuannya pada F1 adalah bunga ungu pollen lonjong (PpLl)
ü  Hasil temuan pada F2 ternyata dihasilkan rasio fenotip galur induk ( KP) dengan galur rekombinan (KR) yang tidak sesuai dengan hukum mendell; Ungu lonjong : Ungu Bulat : merah lonjong : merah bulat = 9 : 1 : 1 : 9
Hasil Pindah silang akan terbentuk:
Kombinasi Parental (KP)
Kombinasi Rekombinan (RK)
Gen yang berpautan tidak selamanya terpaut. Pindah silang menyebabkan pergantian alel diantara kromosom homolog, menghasilkan kombinasi yang tidak ditemukan pada induknya. Pindah silang meningkatkan keragaman genetik selain yang dihasilkan oleh pengelompokkan gen secara bebas.
Ketentuan:
Nilai pindah silang adalah angka yang menunjukkan persentase kombinasi baru yang dihasilkan akibat terjadinya pindah silang. Nilai pindah silang (satuan dalam %) sama dengan jarak gen. Nilai pindah silang juga sama dengan nilai rekombinasi gen berpautan. Pindah silang terjadi jika 50% <>
Pada umumnya pindah silang dijumpai pada makhluk betina maupun jantan. Namun pada ulat sutra (Bombyx mori) betina tidak pernah terjadi pindah silang. Sementara itu, Drosophyla yang jantan tidak mengalami pindah silang.
Contoh soal pindah silang:

penyelesaian:

Nilai pindah silang (NPS) sama dengan nilai RK = 8 %, yaitu jumlah ekombinasi hasil pindah silang. Perbandingan gamet yang terbentuk akibat adanya pindah silang PH : Ph : pH : ph = 23 : 2 : 2 : 23



BAB 3 PENUTUP
*    Kesimpulan
Berdasarkan materi pola-pola hereditas diatas, saya dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
*      Hukum Mendel 1 dan 2 menjelaskan tentang parental dari masing-masing individu yang berbeda karakter menghasilkan 100% individu dengan karakter yang dominan dari parentalnya, kemudian disilangkan lagi dengan individu yang sejenis hingga menghasilkan fenotip 2 dengan perbandingan 3:1 untuk hukum Mendel 1 dan 9:3:3:1 untuk hukum Mendel 2
Hal ini mengartikan bahwa terjadinya variasi turunan itu merupakan dampak dari hukum Mendel diatas. Karena induk yang tadinya berkarakter lain disilangkan menghasilkan banyak karakter turunan yang berkarakter lain lagi dengan variasi yang lebih banyak.
*      Pindah silang artinya, suatu kejadian dimana alel bertukar posisi pada kromosom yang mengalami pindah silang, sehingga sifat yang muncul tidak ditemukan pada induknya.
Hal ini berarti, peristiwa pidah silang itu memberi dampak terhadap variasi turunan. Dimana yang tadinya gen secara teratur akan menurun, namun karena terjadinya khiasma mengakibatkan alelnya tertukar

*    Saran
Semoga apa yang saya paparkan diatas dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya yang ingin mendalami bidang pola-pola hereditas ini. Setelah mempelajarinya, kita bisa menarik banyak pelajaran dari materi ini. Bagaimana memperbaiki keturunan dengan menghindari gen-gen yang berkarakter tidak normal, serta menghindari induk betina yang membawa karakter tidak normal pula.
Saya sebagai manusia biasa tentunya tidak luput dari kesalahan-kesalahan yang mungkin saya bawa pada makalah ini. Tak kalah pentingnya kalimat-kalimat kritikan dari teman-teman dan pihak-pihak yang ingin memberikan sumbangsi pemikiran agar saya dapat membangun ide-ide yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Terimakasih.



 DAFTAR PUSTAKA






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar